"Tok..tok..tok..!"
Pintu rumah terketuk. Sebagai tanda bahwa ada tamu yang berkunjung. Jawaban yang akan diberikan rumah bergantung dengan tuannya. Tapi bagaimana jika tamunya ini adalah tuannya sendiri. Padahal kunci rumah ada di sakunya, namun kenapa harus mengetuk pintu segala.
Ternyata sudah lama rumah ini kosong tak dihuni. Tuannya sedang bertamu ke rumah orang, berpetualang demi mengejar 'pengalaman baru'. Sekaligus berusaha mencari jawaban untuk semua pertanyaan-pertanyaannya yang selama ini mengambang di udara, masih meraba-raba jawaban yang sekiranya bisa melegakan perasaannya. Namun memang benar adanya, setiap kepergian selalu merindukan kepulangan. Dan rumah selalu menunggu, bersedia membukakan pintunya kapanpun itu. Bahkan, jika tuannya ternyata melupakan jalan pulangnya, dia akan selalu setia menanti seiring usia yang terus menggerogoti. Meskipun hanya berteman dengan waktu dan bersahabat dengan sepi, dia tak akan pernah mengeluh. Memilih untuk menyesapinya sendiri. Barangkali saja.
"Klik.. Klik.."
Kunci diputar dua kali. Perlahan dan penuh kehati-hatian. Gagang pintu didorong sambil mengucap salam. Sempat melintas keraguan di benaknya sebelum akhirnya tuannya mulai melangkahkan kakinya. Bola matanya langsung berkeliling dari sudut satu ke sudut lainnya. Semuanya masih sama, tak ada yang berubah. Tapi entah kenapa terasa asing. Rasa bersalah segera merambati tuannya. Kemudian disusul hujaman kenangan-kenangan masa lalu yang kini hanya mampu ia baca. Banyak sesuatu yang terlewatkan yang seharusnya bisa dia lakukan disini, di rumahnya sendiri. Namun tak mengapa, ada banyak hal baru juga yang dia peroleh di luar.
Tepat ketika dia selesai memutar kembali rekaman kenangan-kenangan masa lalunya, tubuhnya melemas, ambruk bersama ranselnya yang berisi oleh-oleh berupa pelajaran tentang hidup. Bertumpu pada kedua lututnya, dia bergumam. Mungkin merapalkan doa-doa dan mengucap syukur. Tanpa disadarinya, dua bulir air telah mengintip di ujung dalam matanya. Sedetik kemudian, dua tanda aliran air telah terukir di kedua pipinya.
Tak ingin berlama-lama membiarkan pipinya basah, dia mengusap air matanya. Lalu tersenyum sembari membentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Menurutnya, begitulah cara sederhana untuk memeluk hidup yang kadang berjalan tak selalu seperti yang diharapkan. Dia telah siap merangkul rumahnya untuk diajak lagi mengisi lembaran-lembaran kosong kedepannya. Kertas putih tak selamanya menarik, setidaknya itu yang ia yakini. Dia harus meninggalkan tulisan disini. Coretan menunjukkan bahwa dia masih hidup. Catatan akan bercerita untuk sepuluh tahun kedepan, dua puluh tahun ke depan atau sampai batas waktu yang tak pernah diketahui kapan akan berakhirnya mendatang, bahwa ada yang pernah hidup disini. Meninggalkan jejak kaki untuk generasinya. Dan sangat berharap, sejarah tak akan melupakannya.
Salam,
@AriOtnaigus
Rabu, 25 Februari 2015
Jumat, 01 Agustus 2014
Kumenangkan Hatimu
Mahkota memang tak menghias kepalaku. Medali tak menggantung di leherku. Terlebih lagi, tubuhmu tak bisa kugenggam kemudian kuangkat tinggi-tinggi layaknya sebuah piala yang berhak diperoleh pemenang dalam sebuah pertandingan. Namun di akhir pertemuan ini, tanganku tetap mampu mengisi dan melengkapi kekosongan ruas-ruas jarimu dengan sempurna, meski ada sesuatu yang melingkar di jari manismu yang memaksa kita untuk saling melepaskan.
"Aku harus pergi. Mungkin tidak untuk selamanya. Tapi hati kita tak mungkin lagi berpelukan."
"Berbahagialah. Aku baik-baik saja."
"Percayalah. Namamu akan selalu kusebut dalam doaku."
"Terima kasih."
"Cepat nyusul, ya."
Sebuah senyuman sempat terlukis di wajah kita sebelum kamu mengakhiri pertemuan ini dengan lambaian tangan yang bagiku sesungguhnya tak cukup untuk mewakili salam perpisahan. Hanya air mata yang mampu mengiringi langkahmu yang semakin jauh meninggalkanku. Namun, itu tak lama. Segera kuhapus air mataku ketika aku menyadari bahwa kamu juga meninggalkan jejak air mata di setiap jengkal langkahmu. Langkahmu sudah sangat berat. Betapa bodoh dan egoisnya aku yang semakin memperberat langkahmu dengan tak merelakan kepergianmu.
Sejujurnya, aku sedang tak baik-baik saja ketika kamu menyampaikan kabar ini. Tapi, aku sedang berjuang untuk baik-baik saja untuk menerima kenyataan ini. Ya, aku telah memenangkan hatimu ketika kamu berkata akan menyebut namaku di dalam doamu. Aku juga akan mendoakanmu. Semoga kamu selalu bahagia, meskipun bukan aku yang membahagiakanmu.
Salam,
@AriOtnaigus
"Aku harus pergi. Mungkin tidak untuk selamanya. Tapi hati kita tak mungkin lagi berpelukan."
"Berbahagialah. Aku baik-baik saja."
"Percayalah. Namamu akan selalu kusebut dalam doaku."
"Terima kasih."
"Cepat nyusul, ya."
Sebuah senyuman sempat terlukis di wajah kita sebelum kamu mengakhiri pertemuan ini dengan lambaian tangan yang bagiku sesungguhnya tak cukup untuk mewakili salam perpisahan. Hanya air mata yang mampu mengiringi langkahmu yang semakin jauh meninggalkanku. Namun, itu tak lama. Segera kuhapus air mataku ketika aku menyadari bahwa kamu juga meninggalkan jejak air mata di setiap jengkal langkahmu. Langkahmu sudah sangat berat. Betapa bodoh dan egoisnya aku yang semakin memperberat langkahmu dengan tak merelakan kepergianmu.
Sejujurnya, aku sedang tak baik-baik saja ketika kamu menyampaikan kabar ini. Tapi, aku sedang berjuang untuk baik-baik saja untuk menerima kenyataan ini. Ya, aku telah memenangkan hatimu ketika kamu berkata akan menyebut namaku di dalam doamu. Aku juga akan mendoakanmu. Semoga kamu selalu bahagia, meskipun bukan aku yang membahagiakanmu.
Salam,
@AriOtnaigus
Senin, 05 Mei 2014
Angga dan Tiara, Semoga Berjodoh
Saya ucapkan selamat berjuang untuk sepuluh putra dan sepuluh putri terbaik yang telah dipilih untuk mewakili Indonesia dalam ajang Thomas Uber Cup 2014 di India nanti. Keputusan telah diambil dan tim telah dibentuk. Setiap keputusan tak mungkin bisa menyenangkan semua orang. Namun sekarang bukan saatnya lagi untuk memperdebatkan "seharusnya ini masuk tim" atau "seharusnya itu tak pantas menjadi bagian tim", karena sudah seharusnya masyarakat Indonesia mendukung sepenuhnya tim yang akan berjuang dan mendoakan semoga tim Indonesia mampu mencapai hasil maksimal dan dapat memenuhi apa yang ditargetkan oleh PBSI dengan membawa Piala Thomas "pulang" ke ibu pertiwi.
Jika sekarang banyak yang memprediksi dan membaca peta kekuatan tim Thomas Uber negara-negara lain, alam khayalku justru seperti dibangunkan kembali untuk menelaah lebih jauh tentang "garis jodoh" Angga Pratama dan Tiara Rosalia Nuraidah. Kedua pemain tersebut adalah favorit saya (plus Suci Rizky Andini). Ini bukan tentang kisah asmara dua insan manusia, tapi ini adalah harapan saya. Semoga Angga dan Tiara "dijodohkan" dan kemudian "berjodoh" bermain di ganda campuran. Keduanya mempunyai kemampuan di atas rata-rata. Selain di kelas junior, mereka belum pernah dicoba dimainkan di ganda campuran. Ini sama saja mengacuhkan bakat mereka. Padahal mereka berdua dapat meraih hasil yang cukup bagus bermain rangkap saat di kelas junior.
Ada fakta menarik tentang Angga dan Tiara. Angga adalah juara ganda putra AJC 2009 berpasangan dengan Yohanes Rendy Sugiarto. Kemudian di WJC di tahun yang sama, Angga "hanya" mampu mendapatkan medali perunggu di ganda putra dan gagal mencatatkan namanya di posisi tertinggi dan harus berpuas sebagai runner up di ganda campuran berpasangan dengan Della Destiara Haris. Sementara Tiara berpasangan dengan Suci mampu berdiri di podium tertinggi ganda putri pada ajang AJC 2011. Bersama Suci pula, duo behel ini meraih medali perunggu ganda putri di WJC 2011. Namun ketidakberuntungan harus diterima lagi oleh Tiara di ganda campuran di kejuaraan ini. Berpasangan dengan Ronald Alexander, Tiara kalah dari teman senegara Alfian/Gloria di final dan harus berpuas dengan medali perak di leher. Uniknya, hasil yang sama yang diraih Angga dan Tiara tersebut diperoleh pada kesempatan terakhir mereka masing-masing berlaga di kejuaraan junior. Meskipun Tiara dan Suci juga pernah meraih perak ganda putri di WJC 2009.
Ironis sekali jika melihat prestasi mereka di kelas junior yang cukup baik bermain di dua nomor, ketika masuk level senior justru seperti "dipaksa" untuk bermain di satu nomor saja. Melihat permainan mereka yang fleksibel, saya masih terus yakin bahwa jika pelatih mau memasangkan mereka, mereka akan menjadi kekuatan baru ganda campuran kuat dunia. Ini akan menjadi menarik jika lawan menggunakan strategi menarik Tiara ke belakang, maka Angga akan berduel di depan net dengan pemain putri lawan. Tiara mempunyai serangan yang cukup bagus di garis belakang, sementara Angga yang mempunyai smash keras juga memiliki kekuatan di bola-bola drive. Keduanya juga mempunyai pertahanan yang rapat dan pukulan yang bervariasi. Selain itu, mereka sama-sama memiliki bola-bola "ajaib" yang tak terduga.
Tapi semuanya tetap menjadi keputusan pelatih dan pengurus PBSI. Apakah mereka melihat seperti apa yang saya lihat. Itu semua memang hanya harapan saya, namun besar harapan saya agar itu semua bisa terwujud. Sebelum semuanya menjadi terlambat. Kita tak pernah tahu hasilnya jika tak pernah dicoba, bukan?
Salam,
@AriOtnaigus :p
*gambar diambil dari sini
Jika sekarang banyak yang memprediksi dan membaca peta kekuatan tim Thomas Uber negara-negara lain, alam khayalku justru seperti dibangunkan kembali untuk menelaah lebih jauh tentang "garis jodoh" Angga Pratama dan Tiara Rosalia Nuraidah. Kedua pemain tersebut adalah favorit saya (plus Suci Rizky Andini). Ini bukan tentang kisah asmara dua insan manusia, tapi ini adalah harapan saya. Semoga Angga dan Tiara "dijodohkan" dan kemudian "berjodoh" bermain di ganda campuran. Keduanya mempunyai kemampuan di atas rata-rata. Selain di kelas junior, mereka belum pernah dicoba dimainkan di ganda campuran. Ini sama saja mengacuhkan bakat mereka. Padahal mereka berdua dapat meraih hasil yang cukup bagus bermain rangkap saat di kelas junior.
Ada fakta menarik tentang Angga dan Tiara. Angga adalah juara ganda putra AJC 2009 berpasangan dengan Yohanes Rendy Sugiarto. Kemudian di WJC di tahun yang sama, Angga "hanya" mampu mendapatkan medali perunggu di ganda putra dan gagal mencatatkan namanya di posisi tertinggi dan harus berpuas sebagai runner up di ganda campuran berpasangan dengan Della Destiara Haris. Sementara Tiara berpasangan dengan Suci mampu berdiri di podium tertinggi ganda putri pada ajang AJC 2011. Bersama Suci pula, duo behel ini meraih medali perunggu ganda putri di WJC 2011. Namun ketidakberuntungan harus diterima lagi oleh Tiara di ganda campuran di kejuaraan ini. Berpasangan dengan Ronald Alexander, Tiara kalah dari teman senegara Alfian/Gloria di final dan harus berpuas dengan medali perak di leher. Uniknya, hasil yang sama yang diraih Angga dan Tiara tersebut diperoleh pada kesempatan terakhir mereka masing-masing berlaga di kejuaraan junior. Meskipun Tiara dan Suci juga pernah meraih perak ganda putri di WJC 2009.
Ironis sekali jika melihat prestasi mereka di kelas junior yang cukup baik bermain di dua nomor, ketika masuk level senior justru seperti "dipaksa" untuk bermain di satu nomor saja. Melihat permainan mereka yang fleksibel, saya masih terus yakin bahwa jika pelatih mau memasangkan mereka, mereka akan menjadi kekuatan baru ganda campuran kuat dunia. Ini akan menjadi menarik jika lawan menggunakan strategi menarik Tiara ke belakang, maka Angga akan berduel di depan net dengan pemain putri lawan. Tiara mempunyai serangan yang cukup bagus di garis belakang, sementara Angga yang mempunyai smash keras juga memiliki kekuatan di bola-bola drive. Keduanya juga mempunyai pertahanan yang rapat dan pukulan yang bervariasi. Selain itu, mereka sama-sama memiliki bola-bola "ajaib" yang tak terduga.
Tapi semuanya tetap menjadi keputusan pelatih dan pengurus PBSI. Apakah mereka melihat seperti apa yang saya lihat. Itu semua memang hanya harapan saya, namun besar harapan saya agar itu semua bisa terwujud. Sebelum semuanya menjadi terlambat. Kita tak pernah tahu hasilnya jika tak pernah dicoba, bukan?
Salam,
@AriOtnaigus :p
*gambar diambil dari sini
Langganan:
Postingan (Atom)
