Sabtu, 04 April 2015

Saya, Dewi Lestari dan #DeesCoachingClinic Surabaya

Dewi 'DEE' Lestari

Dream come true, seperti itulah kira-kira. Menjadi salah satu peserta Dee's Coaching Clinic Surabaya merupakan keberuntungan sekaligus mimpi yang mewujud bagi saya. Dewi 'Dee' Lestari adalah satu dari dua penulis favorit saya. Satu lainnya adalah Fahd Pahdepie. Jangan tanya alasannya apa, karena saya juga tidak tahu. Tapi barangkali lebih tepatnya, menyukai kadang tak perlu alasan, bukan? :)

Dewi Lestari adalah nama yang sudah tidak asing di telinga saya sejak saya masih di Sekolah Dasar. Bahkan gambarnya bersama dua rekannya, Rida dan Sita yang dulu tergabung dalam grup vokal RSD sempat terpajang di kamar kakak saya. Namun, baru di tahun 2013 lah saya bersentuhan langsung dengan karya-karyanya. Tapi bukan berarti dalam rentang waktu tersebut saya tidak tahu buku-buku yang telah dilahirkan Dee.

Dulu, ketertarikan saya pada buku-buku Dee baru sebatas 'memegang, membolak-balik, membaca ringkasan di belakangnya kemudian mengembalikan buku itu ke tempatnya semula' ketika ke toko buku. Apalagi harga buku-bukunya Dee relatif 'berat' untuk saku saya saat itu. Dari ketertarikan yang seperti itu yang berulang sekian lama, akhirnya memunculkan bibit penasaran yang terus tumbuh. Penasaran itu kemudian terakumulasi hingga meledakkan kenekadan saya untuk menyobek salah satu kemasan plastik buku seri pertama Supernova, KPBJ dan mulai membolak-balik halaman demi halamannya. Sebenarnya kesan pertama saya pada buku itu adalah 'bingung'. Tapi dari kesan itulah justru yang mendorong saya untuk membelinya, ingin mencoba memahaminya lebih mendalam.

Tapi hati saya sulit ditebak (begitu kata orang-orang terdekat saya), termasuk saya sendiri. Setelah berputar-putar di toko buku dengan KPBJ tergamit di tangan kanan, langkahku terhenti di rak sastra, mataku tersedot pada buku Dee lainnya, Filosofi Kopi. Entah energi apa yang menggerakkan tangan kiriku waktu itu untuk mengambil buku itu, lalu memandangi keduanya beberapa saat. Beberapa detik kemudian, saya kembali ke rak dimana KPBJ ditempatkan untuk mengembalikannya. Lalu menuju kasir bersama Filosofi Kopi. Mungkin pertimbangan saya waktu itu karena Filosofi Kopi lebih tipis dan harganya lebih murah dari KPBJ. Haha.. ^_^v

Filosofi Kopi membawa saya dalam rimba aksara yang menakjubkan. Tulisan-tulisan Dee disitu mampu membius saya, menenggelamkan saya pada rangkaian-rangkaian kata indahnya yang menjelma menjadi candu. Ketagihan pada goresan tangan Dee membuat saya ingin mengunyah segala tulisan yang telah dihasilkannya. Buku Dee berikutnya yang saya beli adalah Madre, Rectoverso dan Perahu Kertas. Seri Supernova saya beli dan baca secara berurutan setelah keempat buku tersebut, KPBJ, Akar, Petir dan Partikel. Setelah semuanya selesai, saya menasbihkan diri sebagai salah satu 'adDEEction' yang menantikan kelahiran Gelombang. Mungkin benar, setiap buku akan menemui pembacanya dengan caranya sendiri. Dan begitulah cara buku-buku Dee menyapa saya, memanggil-manggil saya untuk menjamahnya.

Barang yang selamanya akan saya simpan. :)
Ketika Gelombang terbit, saya sudah bertekad, buku-buku saya harus ditandatangani Dee dan saya harus melihatnya secara langsung. Perasaan gembira langsung memenuhi hati ketika Surabaya terpilih menjadi salah satu kota yang akan dikunjungi dalam tour promo Gelombang. Tapi, tour kali ini dikemas secara berbeda karena Dee ingin mengadakan coaching clinic. Perasaan kian membuncah, tak hanya bisa bertemu langsung dengannya, tapi sekaligus bisa menimba ilmu menulis darinya. Sebuah kesempatan yang sangat berharga. Namun untuk bisa mengikuti acara tersebut, syaratnya harus membuat review Gelombang dan hanya disediakan dua puluh tempat saja untuk reviewer terbaik. Cukup kesulitan sebenarnya, karena saya sudah lama sekali tidak me-review buku, tapi keinginan saya sudah bulat, satu kursi tersebut harus menjadi milik saya.

Keinginan saya terkabul, saya menjadi satu dari dua puluh orang beruntung yang terpilih. Sangat senang, namun berbuntut minder ketika mencoba mencari tahu latar belakang calon rekan-rekan saya kala itu. Ada beberapa yang sudah pernah menerbitkan buku, ada pendiri komunitas menulis dan blogger. Sementara saya datang dengan pengetahuan yang sangat awam dalam hal menulis. Tapi saya putuskan untuk tetap hadir karena rasa penasaran saya lebih besar, mengalahkan rasa minder saya. Kesempatan yang luar biasa ini harus saya manfaatkan sebaik-baiknya.

Coaching clinic diadakan pada 29 Maret 2015 di Perpustakaan BI Surabaya (pertama kalinya saya ke perpustakaan kota.. :p). Acara tersebut dimulai sekitar jam sembilan pagi. Dee memulai menyalurkan ilmunya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah diajukan peserta lewat e-mail beberapa hari sebelumnya. Berikut saya tuliskan hasil dari Dee's Coaching Clinic berdasarkan apa yang ditangkap oleh indra pendengaran saya yang kemudian saya coba rangkum, karena sebetulnya apa yang Dee tulis di papan waktu itu tak dapat saya lihat dari tempat saya duduk. Hehe..

Menurut Dee, syarat untuk menjadi penulis ada empat :

1. Berpikir kreatif
Selama ini, yang terjadi adalah kesalahan dalam mengartikan berpikir kreatif. Berpikir kreatif bukan membuat cerita yang lain dari yang lain, karena hal tersebut tidak ada. Berpikir kreatif adalah memperluas medan kesadaran kita, menjadi sesuatu yang bukan kita. Seorang penulis harus bisa melihat sesuatu dengan kacamata lain, membuat yang abstrak menjadi konkret. Dan modal utama penulis adalah observasi. Penulis yang baik harus menjadi pengamat yang baik, karena segalanya unik dan menarik di mata penulis.

2. Tekun berlatih
Menulis adalah 'otot'. Otot akan terbentuk bagus jika terus dilatih. Carilah sarana yang paling mudah untuk melatih 'otot' tersebut, seperti blog barangkali.

3. Tahu buku yang ingin ditulis (yang paling ingin dibaca BANGET)
Inilah yang menjadi semacam kunci bagi saya pribadi untuk membuka pintu kesadaran menulis saya. Selama ini, saya terlalu pusing dengan apa komentar orang tentang tulisan saya nanti yang membuat saya sering gagal merampungkan tulisan saya. Carilah tema yang 'greget', yang disuka, yang diminati. Menulis sendiri adalah proses menggali. Yang digali adalah sesuatu yang bukan unik dari penulis. Mencari suara unik tersebut ibarat gatal yang tak kunjung reda, yang selalu menarik kita untuk terus menggaruknya.

4. Deadline
Adanya deadline sangat membantu penulis untuk fokus pada tulisan yang ingin diselesaikannya. Penulis harus bisa berdistraksi dengan ide yang 'mencari perhatian'. Sahabati ide-ide yang mengusik itu, beri ruang dan tampung ide tersebut dalam 'celengan' ide.

Kemudian Dee membahas masalah riset. Pertajam penggunaan panca indera. Dee menyarankan untuk menggunakan indra penciuman yang masih jarang digunakan saat ini, namun mempunyai kesan yang kuat di imajinasi pembaca. Untuk membuat cerita yang baik, buatlah cerita fiksi dengan sedikit fakta. Beri ruang untuk pembaca berimajinasi. Sedikit deskripsi tapi kreatif. Kemudian seimbangkan antara narasi dan dialog. Narasi berfungsi untuk melambatkan cerita dan dialog berfungsi untuk mempercepat/melancarkan cerita. Riset sendiri ada empat macam :
  1. Riset pustaka
  2. Riset internet
  3. Wawancara
  4. Datang langsung
Hal berikutnya yang dibahas adalah struktur. Dee menjelaskan besarnya manfaat pemetaan. Sebenarnya untuk hal ini lebih mudah dijelaskan dalam bagan seperti yang dilakukan Dee, tapi karena saya tidak bisa membuat bagan itu, saya akan mencoba menjelaskannya dalam bentuk kalimat-kalimat semampu saya. Membuat novel ibarat menyeberang dari pulau A ke pulau B. Untuk memudahkan dalam menyeberang pulau tersebut dibutuhkan pulau-pulau transisi. Bagi cerita dalam tiga babak, 1, 2 dan 3. Untuk babak kedua bagi lagi menjadi 2 bagian, 2a dan 2b, karena di bagian 2 inilah biasanya banyak sekali yang gagal, kehabisan tenaga karena kekomplekan cerita ada di bagian ini.

Di babak 1 berisi tentang pengenalan (tokoh, setting dan lainnya). Babak 2a adalah ketika tokoh utama terlempar dari zona nyamannya dan konflik mulai memuncak. Dalam babak 2b terjadi 'pertikaian' dalam diri tokoh utama dan babak 3 konflik turun (menjawab pertanyaan-pertanyaan). Satuan terkecil dari cerita adalah adegan. Tulis ide dalam adegan-adegan, agar menulis tidak terasa berat karena tinggal menggabungkan adegan-adegan tersebut. Perjalanan cerita adalah perjalanan karakter, menemukan apa yang tokoh utama inginkan. Dan cerita bisa mengalir karena adanya sebab-akibat. Dee juga memperkenalkan tehnik 'ciprat-ciprat', yaitu lompati dulu kebuntuan.

Lalu Dee mengajarkan kami dalam menciptakan karakter. Karakter berfungsi sebagai 'kuli', bukan menjalankan cerita. Karakter yang hidup harus punya kebiasaan, punya keistimewaan tapi juga perlu punya kelemahan. Dia harus beraksi, bukan korban keadaan. Dan karakter yang loveable adalah dia harus berkorban.

Dee juga memberikan tips tentang naskah yang bagus. Naskah yang bagus menurut dia harus rapi. Kemudian beri perhatian khusus pada halaman pertama (buku) ataupun paragraf pertama (artikel). Buang basa-basi di bagian itu.

Beauty and the beast. ;p
Begitulah hasil rangkuman yang saya dapatkan dari Dee's Coaching Clinic kemarin. Sebuah pelajaran menulis yang sangat berharga bagi saya. Di akhir acara sebenarnya ingin sekali menodong Dee untuk bernyanyi, tapi karena waktu sudah menjelang jam satu siang dan acara akan dilanjutkan dengan signing book, keinginan tersebut saya urungkan karena banyak sekali buku yang harus ditandatangani Dee. Empat jam yang berlalu, terasa begitu singkat. Hehe.. :p

Antrian panjang langsung mengular untuk mendapatkan tanda tangan Dee di bukunya masing-masing. Setelah tiba giliranku, seperti ada yang menjentik di hatiku. Inilah salah satu mimpiku yang terwujud itu, melihat Dee menandatangani langsung buku-bukuku. Setelah selesai, Dee bilang "Ari, pertanyaan-pertanyaan kamu bagus-bagus tadi.". Seketika tubuhku ingin melayang mendengarnya. Entah hanya sekadar basa-basi atau tidak, saya menganggapnya sebagai pujian. Dan keluar dari mulut seorang Dewi Lestari adalah penghargaan yang sangat besar bagi saya. Padahal, awalnya saya mengira pertanyaan-pertanyaan saya konyol dan tak layak jawab karena di awal-awal, pertanyaan saya tak ada yang dibacakan Dee. Saat itu rasanya saya seperti tak dianggap keberadaannya. Namun, menjelang tengah acara pertanyaan-pertanyaan saya dibacakan dan dijawab oleh Dee. Beruntungnya apa yang saya tanyakan, semuanya dijawab oleh Dee dengan pembahasan yang mendetail seperti yang sudah saya jabarkan diatas. Dan, saya sangat puas. Terima kasih Dee Lestari. Terima kasih Bentang Pustaka. Terima kasih teman-teman semua yang telah terlibat dalam acara ini, yang telah memberikan warna lain di hari Minggu saya waktu itu. Sebuah pengalaman yang sangat berharga dan tentunya tak akan pernah saya lupakan. :)


Orang-orang hebat. Senang menjadi bagian ini bersama kalian. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan. Cheers! ^_^v


Salam,
@AriOtnaigus ;p

Senin, 02 Maret 2015

Catatan Kecil Tentang Supernova #5: Gelombang ~ Dee Lestari

Saya memang cukup terlambat mengenal karya-karya Dee, namun beruntungnya, sekarang saya telah memiliki dan membaca semua bukunya. Buku pertama Dee yang saya baca adalah Filosofi Kopi. Saat baca buku kumpulan cerita tersebut saya dibuat 'misuh-misuh' nggak jelas karena gaya bercerita, pemilihan kata dan alur yang Dee sajikan sangat memukau saya. Gelombang sendiri merupakan buku kesembilan dari Dewi "Dee" Lestari dan seri kelima dari enam seri Supernova yang direncanakan. Barangkali, yang saya tulis disini nanti bukan tentang Gelombang, melainkan sebuah catatan setelah selesai membaca Gelombang.

Seri Supernova sengaja saya baca setelah empat buku lainnya, Filosofi Kopi, Madre, Rectoverso dan Perahu Kertas agar saya tidak terlalu kesulitan mengikuti jalan ceritanya. Sejujurnya, awal baca seri pertama Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh saya cukup tersengal menangkap maksud Dee di buku itu. Entah bukunya yang terlalu berat bagi saya atau memang sayanya yang terlalu bodoh untuk mengerti. Bahkan, pertama kali baca buku seri pertama tersebut, saya banyak melewatkan catatan kaki tentang istilah-istilah ilimiahnya. Kemudian saya mencoba untuk lebih bersabar membacanya di kesempatan kedua. Saya mencoba menahan penat, dan ternyata memang buku itu 'gila'. Sentuhan Dee benar-benar membuat saya kagum. Hingga di seri Supernova berikutnya, Akar, Petir, Partikel dan yang terbaru Gelombang, kekaguman saya akan karya-karya Dee tak pernah luntur.

Kelahiran Gelombang tentu saja sudah sangat dinantikan oleh penggemar Supernova, termasuk saya. Sama seperti tiga seri Supernova sebelumnya (Akar, Petir dan Partikel), Gelombang juga memakai sudut pandang orang pertama sebagai tokoh utama. Jika di Akar, Dee memunculkan sosok Bodhi Liong, di Petir kita diperkenalkan pada Elektra Wijaya dan di Partikel melahirkan seorang Zarah Amala sebagai tokoh sentral di masing-masing bukunya, maka di Gelombang kita diajak untuk berpetualang di kisah hidup Alfa Sagala. Keempat seri itu menggunakan gaya bahasa yang berbeda. Hal ini karena Dee bercerita berdasarkan karakter tokoh utama yang dia ciptakan. Sehingga dengan mudah kita dapat mengenali karakter tokoh utamanya melalui gaya penulisan Dee, tanpa harus dijelaskan panjang kali lebar yang sama dengan luas (hehehe.. ;p). Sebuah pengenalan yang cukup menarik bagi saya. Tapi bukan berarti ciri khas seorang Dee hilang begitu saja. Dalam seri Supernova pula, saya diajak menyapa banyak bahasa selain bahasa yang lekat dengan saya, bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Mulai dari bahasa daerah di Indonesia seperti bahasa Sunda dan Batak sampai bahasa luar negeri seperti Inggris dan Spanyol.

Sebetulnya setiap buku mempunyai kekuatannya sendiri-sendiri dan tak layak untuk dibanding-bandingkan. Namun sayangnya, susah sekali untuk tidak menilai tanpa membandingkan. Dibandingkan dengan seri Supernova lainnya, Gelombang termasuk yang 'ringan'. Kalau boleh mengurutkan dari yang paling 'ringan', saya akan menempatkan Gelombang di bawah Petir. Menurut saya, urutannya Petir, Gelombang, Akar, Partikel dan yang paling 'berat' KPBJ. Disamping kita bisa melihat kecerdasan Dee, di setiap serinya kita juga bisa dibuat tersenyum, mungkin juga sampai tertawa dengan komedi ala Dee. Walaupun tak sekonyol dan sebanyak di Petir, tapi sisi Dee yang satu itu saya temukan di Gelombang ketika baru membaca nukilannya. Satu hal yang membekas di ingatan saya, yang membuat saya tergelitik adalah kesemena-menaan Dee dalam menamai saudara-saudara tokoh utamanya. Di Petir, tokoh utama dinamai Elektra, nama yang keren menurut saya. Tapi kakaknya dinamai dengan nama yang seperti 'asal comot', Watti dengan dua huruf 't'. Sementara di Gelombang, meskipun tokoh utama dan saudara-saudaranya dinamai dengan nama yang lucu-lucu karena diceritakan salah dalam penulisan di akta dan mendapatkan nama panggilan Ichon, namun akhirnya namanya menjadi Alfa Sagala, nama yang juga keren menurut saya. Hal-hal jenaka yang terlihat sederhana seperti itu sepertinya sebenarnya dipikirkan serius oleh Dee.

Selalu ada sesuatu yang baru dan menarik yang saya temukan di setiap seri Supernova. Menurut Dee sendiri, apa yang dia sampaikan di buku semuanya melalui riset. Menurut saya, dia melakukannya bukan hanya karena kebutuhan cerita, namun ketertarikan pribadinya pada apa-apa yang ingin ia tulis. Lalu dari ketertarikannya itu, dia mencoba mengemas ulang untuk dibagikan kepada pembacannya secara menarik pula. Dalam buku Gelombang, yang paling sering dibicarakan pembaca adalah tentang mimpi sadar. Sejujurnya, saya pribadi termasuk yang jarang sekali bermimpi ketika tidur. Tapi dari buku ini, saya mendapatkan pengetahuan baru tentang dimensi lain yang bernama alam mimpi yang sebenarnya bisa kita 'kendalikan'.

Dari segi cerita Supernova, teka-teki dan misteri yang selama ini ada di benak pembaca mulai menemukan jalan terangnya melalui Gelombang. Di buku ini, saya mulai menebak-nebak jalan ceritanya. Tapi bukan Dee namanya jika dia cuma menjawab pertanyaan dan penasaran pembaca. Disaat sebagian pertanyaan dan penasaran telah terjawab, pertanyaan dan penasaran baru justru  bagai jamur di musim penghujan, tumbuh subur, muncul semakin banyak di kepala, mengantri untuk menemui jawabannya. Kejutan juga dihadirkan Dee disini, yang cukup mengagetkan saya adalah ketika Gio yang pada awal kemunculannya di KPBJ hanya diceritakan 'sepintas' ternyata justru menjadi salah satu bagian tokoh penting di cerita ini kedepannya.

Dee memang membebaskan pembacanya untuk berimajinasi dan menginterpretasikan tulisannya. Yang saya tangkap, Supernova bercerita tentang 'pencarian'. Perjalanan spiritual yang dalam hal ini membahas sesuatu yang cukup sensitif untuk dibicarakan di tengah masyarakat saat ini, yaitu agama. Barangkali saja, yang dimaksudkan Dee adalah jangan menuhankan agama. Agama adalah pilihan dan urusan personal dengan Tuhannya. Kita sudah terlalu banyak mengabaikan sekitar. Mungkin saja, Dee ingin mengajak untuk berbuat baik dan lebih peduli, karena setahu saya, kebaikan tak pernah memandang agamanya apa. Saya salut dengan keberanian Dee disini. Dibutuhkan keteguhan hati dan pemahaman yang lebih untuk menuliskannya dalam buku, karena untuk menuliskan hal ini saja, sempat ada ketakutan dan keraguan di diri saya.

Sempat berimajinasi bercakap-cakap dengan Mbak Dee seperti di buku Gelombang halaman 112-113. Percakapan antara Bapaktua dengan Ichon.

  "Aku tahu kau pintar, tapi jangan terlalu pintar. Sakit hati nanti kau."
  "Kenapa memangnya, Bapaktua?"
  "Kau tahu pekerjaan paling menyiksa dalam hidup ini? Menunggu. Kalau kau terlalu pintar, kau jadi harus tunggu orang-orang bodoh. Kau sudah di mana, mereka masih kepayahan lari di belakang. Ikut capek kita."
  Aku terkekeh. "Kalau begitu, jalan keluarnya memang bukan menunggu, Bapaktua. Kita harus lari sendiri. Tak usah tunggu yang lain."

Saya ingin bilang ke Mbak Dee, jangan terlalu pintar, saya cukup kelelahan mengejar ketertinggalan. Tapi barangkali saja, jawaban Mbak Dee sama seperti jawaban Ichon diatas. Hehehe..

Diluar itu semua, saya sangat menantikan kehadiran seri Supernova terakhir, Intelegensi Embun Pagi di ruang baca saya untuk menggenapkan kepingan-kepingan puzzle Supernova yang masih berserakan ini menjadi satu rangkaian cerita utuh. Saya sudah tidak sabar menunggu kejutan-kejutan yang lahir dari buah pemikiran dan goresan tangan seorang Dewi Lestari. Untuk penutup catatan saya ini, saya ingin mengutip puisi indah yang ada di awal halaman buku ini. Puisi-puisi ini menjadi ciri khas dari buku Supernova, selalu ada di halawan awal. Mungkin juga menjadi salah satu yang ditunggu di episode Supernova berikutnya. Tapi ada yang berbeda di puisi Gelombang kali ini dengan puisi-puisi di seri Supernova lainnya. Entah sengaja atau lupa, tidak ada tulisan kecil dalam tanda kurung di kanan bawah puisi, sebuah catatan yang sedikit konyol. Hahaha... :)

Dimensi tak terbilang dan tak terjelang
Engkaulah ketunggalan sebelum meledaknya segala percabangan
Bersatu denganmu menjadikan aku mata semesta
Berpisah menjadikan aku tanya dan engkau jawabnya
Berdua kita berkejaran tanpa pernah lagi bersua

Mencecapmu lewat mimpi
Terjauh yang sanggup kujalani
Meski hanya satu malam dari ribuan malam
Sekejap bersamamu menjadi tujuan peraduanku
Sekali mengenalimu menjadi tujuan hidupku

Selapis kelopak mata membatasi aku dan engkau
Setiap napas mendekatkan sekaligus menjauhkan kita
Engkau membuatku putus asa dan mencinta
Pada saat yang sama



Salam,
@AriOtnaigus

Rabu, 25 Februari 2015

Aku Pulang

"Tok..tok..tok..!"

Pintu rumah terketuk. Sebagai tanda bahwa ada tamu yang berkunjung. Jawaban yang akan diberikan rumah bergantung dengan tuannya. Tapi bagaimana jika tamunya ini adalah tuannya sendiri. Padahal kunci rumah ada di sakunya, namun kenapa harus mengetuk pintu segala.

Ternyata sudah lama rumah ini kosong tak dihuni. Tuannya sedang bertamu ke rumah orang, berpetualang demi mengejar 'pengalaman baru'. Sekaligus berusaha mencari jawaban untuk semua pertanyaan-pertanyaannya yang selama ini mengambang di udara, masih meraba-raba jawaban yang sekiranya bisa melegakan perasaannya. Namun memang benar adanya, setiap kepergian selalu merindukan kepulangan. Dan rumah selalu menunggu, bersedia membukakan pintunya kapanpun itu. Bahkan, jika tuannya ternyata melupakan jalan pulangnya, dia akan selalu setia menanti seiring usia yang terus menggerogoti. Meskipun hanya berteman dengan waktu dan bersahabat dengan sepi, dia tak akan pernah mengeluh. Memilih untuk menyesapinya sendiri. Barangkali saja.

"Klik.. Klik.."

Kunci diputar dua kali. Perlahan dan penuh kehati-hatian. Gagang pintu didorong sambil mengucap salam. Sempat melintas keraguan di benaknya sebelum akhirnya tuannya mulai melangkahkan kakinya. Bola matanya langsung berkeliling dari sudut satu ke sudut lainnya. Semuanya masih sama, tak ada yang berubah. Tapi entah kenapa terasa asing. Rasa bersalah segera merambati tuannya. Kemudian disusul hujaman kenangan-kenangan masa lalu yang kini hanya mampu ia baca. Banyak sesuatu yang terlewatkan yang seharusnya bisa dia lakukan disini, di rumahnya sendiri. Namun tak mengapa, ada banyak hal baru juga yang dia peroleh di luar.

Tepat ketika dia selesai memutar kembali rekaman kenangan-kenangan masa lalunya, tubuhnya melemas, ambruk bersama ranselnya yang berisi oleh-oleh berupa pelajaran tentang hidup. Bertumpu pada kedua lututnya, dia bergumam. Mungkin merapalkan doa-doa dan mengucap syukur. Tanpa disadarinya, dua bulir air telah mengintip di ujung dalam matanya. Sedetik kemudian, dua tanda aliran air telah terukir di kedua pipinya.

Tak ingin berlama-lama membiarkan pipinya basah, dia mengusap air matanya. Lalu tersenyum sembari membentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Menurutnya, begitulah cara sederhana untuk memeluk hidup yang kadang berjalan tak selalu seperti yang diharapkan. Dia telah siap merangkul rumahnya untuk diajak lagi mengisi lembaran-lembaran kosong kedepannya. Kertas putih tak selamanya menarik, setidaknya itu yang ia yakini. Dia harus meninggalkan tulisan disini. Coretan menunjukkan bahwa dia masih hidup. Catatan akan bercerita untuk sepuluh tahun kedepan, dua puluh tahun ke depan atau sampai batas waktu yang tak pernah diketahui kapan akan berakhirnya mendatang, bahwa ada yang pernah hidup disini. Meninggalkan jejak kaki untuk generasinya. Dan sangat berharap, sejarah tak akan melupakannya.


Salam,
@AriOtnaigus